Seuntai
kasih yang berpilin indah, mengikatku dengan eratnya
Kukira
masih kan ada renggang di sana
Tapi
ternyata kasihmu memang tak sedikitpun bercelah
“selaksa
rindu……..merebak……..memenuhiku…. mmm,” sebuah gumaman tertangkap oleh gendang
telingaku. Sadar kalau yang digumamkan adalah tulisanku, aku buru-buru menutup
buku didepanku berharap kalau si
penggumam tadi tidak membaca tulisanku lebih banyak lagi. Aku menengadahkan
kepalaku, mencari sosok yang berani-beraninya membaca tulisanku. Bagaimanapun juga,
aku tidak suka ada orang yang membaca tulisanku tanpa seizinku.
Aku menghela
nafas lega ketika aku tau siapa yang kutuduh penggumam tadi.
“Dian…kirain
siapa, ternyata kamu” ungkapku. Aku bersyukur dalam hati karena bukan orang
lain yang membaca tulisanku tetapi dia adalah Dian. Teman sebangku sekaligus
sahabatku. Untuk Dian, dia pengecualian.
“iya
aku, memangnya kenapa?” Dian menaruh tasnya diselorokan bangku kami kemudianduduk
di kursi dan menghadap padaku. Aku yang sedari tadi masih menumpuk tanganku di
atas bukukupun mulai melonggarkan penjagaanku.
“kalau
kamu mau baca tulisanku, kamu gak perlu ngintip-ngintip kayak pencuri gitu kan……
kamu bikin aku terkejut saja,” keluhku seraya memutar badanku menghadap
padanya.
Dian hanya
tertawa renyah menanggapi pengakuanku.
“nadia…nadia….
Memangnya itu puisi buat siapa? Kok kayaknya rahasia banget gitu?”
Aku meletakkan
jari telunjukku dibibirku dan member isyarat agar Dian mendekat.
“ssst,
puisi ini untuk inuku.”
“ibu??”
Aku menganggukkan
kepalaku mengiyakan. “dua hari lagi adalah hari ibu. Aku ingin membuatkan puisi
untuk ibuku.”
v
“nad,
kapan kamu akan memberikan puisi yang kamu buat tadi ke ibumu?” Tanya Dian saat
bel istirahat telah berbunyi.
“tentu
saja lusa pas Hari Ibu. Mas tahun depan? Kadaluwarsa dong……” jawabku yang
membuat Dian menarik kedua sudut bibirnya.
“eh
nad, kenapa sih kamu ngasih puisi pada ibumu?”
Aku mengerutkan
keningku, sedikit heran dengan pertanyaan Dian.
“selama
ini, aku belum bisa memberikan apapu pada ibuku. Setelah 9 bulan mengandung,
melahirkan dan merawatku hingga sebesar ini, aku merasa masih belum bisa
membanggakan dan memberikan yang terbaik untuk ibuku. Prestasiku di sekolah
biasa saja, di rumahpun aku lebih sering bermain ketimbang membantu ibu. Ibuku pasti
pernah bahkan sering merasa kecewa padaku. Makanya aku bikin acak-acakanku ini
kepada ibu, siapa tau bisa menambal sedikit rasa kecewa ibu padaku. Kalau kamu
sih enak, dari SD sampai Smp kelas IX saat ini, kamu selalu menjadi juara
pertama. Tiap menjadi delegasi dari sekolahpun kamu selalu pulang membawa
piala. Pasti ibumu sangat bangga padamu.”
“tidak
juga nad…..”
v
“apakah
ini benar-benar cocok buat ibuku?” Tanya Dian seraya membalik-balikkan gamis
indah berwarna putih di depannya.
“tenang
aja, pasti cocok kok….. ibuku juga punya banyak gamis di rumah.” tapi bukan aku yang membelikannya. Itulah
sebenarnya yang ingin aku katakan pada Dian, tapi urung. Dian baru saja
mendapat tunjangan beasiswa dari sekolah karena prestasi yang ia raih, jadilah
aku menyarankan padanya agar membeli gamis untuk ibunya. Memberi hadiah ibu
dengan uang sendiri, pasti lebih menyenangkan kan?
“jadi
menurutmu, ibuku akan suka saat aku memberinya gamis ini?”
“tentu
saja. Semua ibu menyukainya.”
Dian tampak
tersenyum manis dari balik kerudungnya.
“nad,
memberikan hadiah ini pada ibu besok, kamu mau mengantarku kan?”
“seperti
pintamu.”
v
Aku dan
Dian berjalan jalan itu muat untuk kulewati. Kukira dia sudah terbiasa melewati
jalan ini, jadi mungkin ia lebih beruntung. Tapi ternyata ia lebih sering
mengeluh ketika bahunya bertemu dengan tembok-tembok rumah yang seakan siap
menghimpit kami kapanpun ia mau.
“nad,
aku jarang sekali bertemu ib uku.” Ungkap Dian saat kami berhasil melewati
rintangan sempit itu.
Mendengar
ucapan Dian, tentu saja aku langsung membelalakkan mataku. Aku memiringkan
kepalaku isyarat bahwa aku tidak mengerti apa yang ia maksudkan.
“kenapa
seperti itu Dian? Apa kamu marah pada ibumu?” tanyaku penasaran.
“tidak.
Aku tidak sedikitpun marah pada ibu.”
“lalu?”
“karna
ibu tidak pernah mengizinkanku untuk menemuinya.”
Aku
mendengar sebuah cekikikan dari sebrangku. Tepatnya di sebuah warung dipinggir
jalan yang lumayan sepi ini. Di sana ada seorang wanita yang tengah duduk di
atas pangkuan seorang pria dengan manjanya. Pakaiannya minim, hingga memamerkan
sebagian besar dari anggota tubuhnya. Aku memejamkan mataku mataku saat melihat
mereka hendak melakukan sesuatu yang tak seharusnya terlihat olehku. Aku segera
memalingkan mukaku dan menatap Dian.
“bagaimana
mungkin seperti itu? Bagaimana dengan ayahmu?”
“aku
tak pernah benar-benar punya ayah nad….”
“maksud
kamu?”
“wanita
yang kamu lihat tadi, dia adalah ibuku. Dan pria yang difgelayuti ibu dengan
manja itu, aku tidak tau apakah dia ayahku atau bukan. Jadi menurutmu, apakah
ibu masih akan tetap menyukai gamis yang kuberikan padanya?”
v
(a.n 131213)

0 komentar:
Posting Komentar