Minggu, 15 Desember 2013

Gamis Ibu

                                Selaksa rindu merebak memenuhiku
                                Seuntai kasih yang berpilin indah, mengikatku dengan eratnya
                                Kukira masih kan ada renggang di sana
                                Tapi ternyata kasihmu memang tak sedikitpun bercelah
                “selaksa rindu……..merebak……..memenuhiku…. mmm,” sebuah gumaman tertangkap oleh gendang telingaku. Sadar kalau yang digumamkan adalah tulisanku, aku buru-buru menutup buku didepanku berharap kalau si penggumam tadi tidak membaca tulisanku lebih banyak lagi. Aku menengadahkan kepalaku, mencari sosok yang berani-beraninya membaca tulisanku. Bagaimanapun juga, aku tidak suka ada orang yang membaca tulisanku tanpa seizinku.
                Aku menghela nafas lega ketika aku tau siapa yang kutuduh penggumam tadi.
                “Dian…kirain siapa, ternyata kamu” ungkapku. Aku bersyukur dalam hati karena bukan orang lain yang membaca tulisanku tetapi dia adalah Dian. Teman sebangku sekaligus sahabatku. Untuk Dian, dia pengecualian.
                “iya aku, memangnya kenapa?” Dian menaruh tasnya diselorokan bangku kami kemudianduduk di kursi dan menghadap padaku. Aku yang sedari tadi masih menumpuk tanganku di atas bukukupun mulai melonggarkan penjagaanku.
                “kalau kamu mau baca tulisanku, kamu gak perlu ngintip-ngintip kayak pencuri gitu kan…… kamu bikin aku terkejut saja,” keluhku seraya memutar badanku menghadap padanya.
                Dian hanya tertawa renyah menanggapi pengakuanku.
                “nadia…nadia…. Memangnya itu puisi buat siapa? Kok kayaknya rahasia banget gitu?”
                Aku meletakkan jari telunjukku dibibirku dan member isyarat agar Dian mendekat.
                “ssst, puisi ini untuk inuku.”
                “ibu??”
                Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan. “dua hari lagi adalah hari ibu. Aku ingin membuatkan puisi untuk ibuku.”
v   
                “nad, kapan kamu akan memberikan puisi yang kamu buat tadi ke ibumu?” Tanya Dian saat bel istirahat telah berbunyi.
                “tentu saja lusa pas Hari Ibu. Mas tahun depan? Kadaluwarsa dong……” jawabku yang membuat Dian menarik kedua sudut bibirnya.
                “eh nad, kenapa sih kamu ngasih puisi pada ibumu?”
                Aku mengerutkan keningku, sedikit heran dengan pertanyaan Dian.
                “selama ini, aku belum bisa memberikan apapu pada ibuku. Setelah 9 bulan mengandung, melahirkan dan merawatku hingga sebesar ini, aku merasa masih belum bisa membanggakan dan memberikan yang terbaik untuk ibuku. Prestasiku di sekolah biasa saja, di rumahpun aku lebih sering bermain ketimbang membantu ibu. Ibuku pasti pernah bahkan sering merasa kecewa padaku. Makanya aku bikin acak-acakanku ini kepada ibu, siapa tau bisa menambal sedikit rasa kecewa ibu padaku. Kalau kamu sih enak, dari SD sampai Smp kelas IX saat ini, kamu selalu menjadi juara pertama. Tiap menjadi delegasi dari sekolahpun kamu selalu pulang membawa piala. Pasti ibumu sangat bangga padamu.”
                “tidak juga nad…..”
v   
                “apakah ini benar-benar cocok buat ibuku?” Tanya Dian seraya membalik-balikkan gamis indah berwarna putih di depannya.
                “tenang aja, pasti cocok kok….. ibuku juga punya banyak gamis di rumah.” tapi bukan aku yang membelikannya. Itulah sebenarnya yang ingin aku katakan pada Dian, tapi urung. Dian baru saja mendapat tunjangan beasiswa dari sekolah karena prestasi yang ia raih, jadilah aku menyarankan padanya agar membeli gamis untuk ibunya. Memberi hadiah ibu dengan uang sendiri, pasti lebih menyenangkan kan?
                “jadi menurutmu, ibuku akan suka saat aku memberinya gamis ini?”
                “tentu saja. Semua ibu menyukainya.”
                Dian tampak tersenyum manis dari balik kerudungnya.
                “nad, memberikan hadiah ini pada ibu besok, kamu mau mengantarku kan?”
                “seperti pintamu.”
v   
                Aku dan Dian berjalan jalan itu muat untuk kulewati. Kukira dia sudah terbiasa melewati jalan ini, jadi mungkin ia lebih beruntung. Tapi ternyata ia lebih sering mengeluh ketika bahunya bertemu dengan tembok-tembok rumah yang seakan siap menghimpit kami kapanpun ia mau.
                “nad, aku jarang sekali bertemu ib uku.” Ungkap Dian saat kami berhasil melewati rintangan sempit itu.
                Mendengar ucapan Dian, tentu saja aku langsung membelalakkan mataku. Aku memiringkan kepalaku isyarat bahwa aku tidak mengerti apa yang ia maksudkan.
                “kenapa seperti itu Dian? Apa kamu marah pada ibumu?” tanyaku penasaran.
                “tidak. Aku tidak sedikitpun marah pada ibu.”
                “lalu?”
                “karna ibu tidak pernah mengizinkanku untuk menemuinya.”
                Aku mendengar sebuah cekikikan dari sebrangku. Tepatnya di sebuah warung dipinggir jalan yang lumayan sepi ini. Di sana ada seorang wanita yang tengah duduk di atas pangkuan seorang pria dengan manjanya. Pakaiannya minim, hingga memamerkan sebagian besar dari anggota tubuhnya. Aku memejamkan mataku mataku saat melihat mereka hendak melakukan sesuatu yang tak seharusnya terlihat olehku. Aku segera memalingkan mukaku dan menatap Dian.
                “bagaimana mungkin seperti itu? Bagaimana dengan ayahmu?”
                “aku tak pernah benar-benar punya ayah nad….”
                “maksud kamu?”
                “wanita yang kamu lihat tadi, dia adalah ibuku. Dan pria yang difgelayuti ibu dengan manja itu, aku tidak tau apakah dia ayahku atau bukan. Jadi menurutmu, apakah ibu masih akan tetap menyukai gamis yang kuberikan padanya?”
v   
(a.n 131213)

0 komentar:

 
;