Sebelum berangkat sekolah, di depan rumahku, Aku membenahkan kerudungku. Hari ini tubuhku lebih ringan dari biasanya. Seakan tidak
ada beban yang memberatkanku. Jadi, perjalanan ke sekolah kali ini pasti tidak
akan membuatku mengeluarkan banyak keringat.
Rumahku sepi. Entah kemana ayah dan ibuku pergi. Yang terpenting
aku harus segera berangkat sekolah. Aku tidak mau telat, dan mendapatkan
hukuman dari Pak Satpam. Apalagi, dari kelas X sampai kini kelas XII, aku tak
pernah sekalipun telat. Jadi, bagaimana mungkin aku mencetak skor terlambat
ditahun akhir sekolah.
Tak mau pikir panjang, aku lansung berjalan menuju jalan raya untuk
mencari angkot. Aku berdiri disamping ibu dengan bayi digendongannya yang
sepertinya tengah menunggu angkot juga. Tiba-tiba saja bayi itu menangis,
membuat sang ibu buru-buru menenangkan bayi itu dengan sentuhan penuh kasih
sayang. Tapi, bayi itu tetap menangis. Bahkan didalam angkotpun bayi itu tetap
menangis. Kucoba menghibur bayi dengan melucu dihadapannya, tapi tetap saja
bayi itu tidak berhenti menangis. Sang ibu mulai tampak khawatir dan kelelahan.
Aku jadi kasihan.
Aku turun dari angkot yang aku tumpangi di depan sekolahku bersama
dengan anak-anak kelas satu yang belum aku kenal. Hari ini adalah hari pelajar,
jadi pelajar yang naik angkot digratiskan oleh Pemerintah Kota. Aku bersyukur
karena itu, sebab aku tidak membawa uang sepeserpun dari rumah.
Gerbang sekolah seakan perisai yang melindungi bangunan sekolahku
yang berdiri kokoh dibelakangnya. Murid-muridpun terlihat berdesakan memasuki
sekolah. Dan diantara murid-murid yang bergerombol itu, aku mendapati seseorang
yang tertangkap oleh mataku. Orang itu adalah Zidan. Orang yang diam-diam telah
mencuri hatiku sejak 3 tahun yang lalu, membuatku seakan ingin memberikan
hatiku padanya. Tapi, sebagai seorang perempuan tentunya itu bukan hal yang
pantas untuk dilakukan olehku. Bagaimanapun, aku tahu batasanku sebagai seorang
muslimah.
Perasaan ini tak pernah berkurang sedikitpun sejak aku merasakan
perasaan aneh ini untuk pertama kalinya. Dan gejolak yang kurasakan tiap kali
bertemu dengannya pun tak pernah benar-benar biasa kunetralkan. Jadi, yang bisa
kulakukan hanyalah menikmati rasa yang hadir dan apapun yang digariskan Tuhan
untukku.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Akupun bergegas memasuki gerbang yang
hampir saja ditutup. Aku tersenyum jahil pada Pak Satpam yang biasanya selalu
kuajak bercanda tiap istirahat.
“maaf pak.. masih milih angkot dulu tadi. Hehehe..” ujarku seraya
nyengir kuda. Namun, ada yang aneh dengan Pak Satpam hari ini. Tak biasanya Pak
Satpam tidak merespon gurauanku. Dan lagi,wajah Pak Satpam tampak murung.
“mungkin Pak Satpam lagi ada masalah.” Putusku akhirnya.
#####
Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan yang pernah aku
hadapi. Dan hari ini adalah hari pertama kalinya seakan aku tidak dianggap oleh
teman-teman sekelasku. Seharusnya mereka menyambutku setelah sekitar satu bulan
aku terbaring di rumah sakit. Kenapa mereka seakan lupa padaku? Bel istirahat
telah usai beberapa menit lalu. Tapi aku tidak mau masuk kelas yang semua
penghuninya tidak peduli padaku. Jadi, lebih baik aku berada disini. Dibangku
belakang sekolah yang sering kudatangi ketika hatiku resah.
Aku mendengar suara derap kaki dan suara gerbang belakang berdecit.
Tak mau ketahuan jika itu adalah dewan guru, akupun lansung bersembunyi dibalik
pohon besar disamping bangku. Namun, aku lansung membelalak ketika melihat
siapa yang tengah mendekat kearah bangku. Dia Zidan. Apa yang dilakukan Zidan disini?
Aku hampir saja keluar dari persembunyianku untuk menyapa Zidan jika saja aku
tidak melihat siapa yang ada dibelakang Zidan. Zia.
“Zidan dan Zia, apakah mereka?” aku membungkam mulutku dengan kedua
tanganku ketika melihat mereka duduk di bangku yang biasanya aku duduki. Hampir
saja aku berteriak dan menangis secara bersamaan, jika saja aku tidak malu
dengan kerudung yang aku kenakan. Melihat orang yang dicintai dengan orang
lain, bukankah itu sakit?
“Zidan, apa kamu tidak bisa menerimanya?” ucap Zia sembari menatap
Zidan yang menundukkan kepalanya.
Tidak menerima? Apa mungkin Zidan tidak menerima keputusan Zia
karena Zia tidak menerima cinta Zidan? Cukup! Aku tak sanggup lagi mendengar
percakapan mereka.
Tak terasa air mata telah menggenangi pelupuk mataku. Yang
kuinginkan saat ini adalah pulang dan menceritakan semua yang kualami hari ini
pada Ibu.
#####
Aku mengerutkan kening ketika memasuki gerbang rumahku. Kenapa
banyak mobil dan orang-orang dirumah? Dan lagi kenapa mereka memakai baju
hitam? Apa ada sesuatu yang terjadi dirumah? Tak mau hanya berfantasi dengan
pertanyaan-pertanyaan yang berkumpul di kepalaku, aku lansung berlari masuk
kedalam rumah.
Seseorang tertutup kain batik terbaring ditengah kerumunan orang
yang membaca yasin dan tahlil. Sedangkam aku melihat ibu memegang Mushaf ditangannya
dengan mata sembab dan berurai air mata.
“apakah mungkin itu ayah? Mana mungkin?!”
Aku melihat ibu mengangkat kepalanya dan menoleh kearahku. Bukan.
Ibu bukan menatapku. Lebih tepatnya ibu menatap seseorang dibalik bahuku.
“mirza..mirza..mirza!” teriak ibu histeris hingga membuat
paman-paman dan bibiku menghentikan bacaan mereka dan mencurahkan perhatian
mereka pada ibu. Ada seseorang yang berlari menembus kerumunan dibelakangku dan
lansung menghampiri ibu.
“Ibu!” teriak orang itu yang ternyata adalah ayah. Jika itu ayah,
lalu siapa yang berada dibalik kain batik itu?
Aku melangkahkan kakiku kedepan dengan gemetar melihat siapa itu.
Dan ketika aku berhasil menangkap wajah disana, itu aku. Orang yang berada
dibawah kain batik itu adalah aku. Aku meninggal.
“mirza anakku..jangan pergi nak, jangan pergi...” rintih ibu
didalam pelukan ayah. Kakiku lansung limbung. Rasanya aku tak dapat menjaga
pijakanku tetap ditanah. Oh,tidak. Kakiku memang tidak ditanah. Aku melayang. Aku
menyandarkan punggungku pada dinding rumahku. Aku masih tidak percaya dengan
yang terjadi. Hanya sampai disinikah perjalanan hidupku.
“zidan, apakah kamu masih
tetap tidak bisa menerimanya?” sebuah suara disampingku membuatku memalingkan
pandanganku. Zia.
“aku gak tau Zi....”
“Zidan, apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu hingga kamu enggan
melepas kepergian mirza?”
“Zi, seharusnya aku mengatakannya lebih awal zi... jika dari dulu
aku mengatakannya bukankah ia bisa membawa hatiku bersamanya? Tapi sekarang,
apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa kubuktikan kalau aku benar-benar
mencintainya sejak pertama aku bertemu dengannya SMP dulu. Apa yang harus
kulakukan Zi?”
Pemaparan Zidan membuatku tertegun. Jadi selama ini?
#####
Sebuah cahaya putih berpijar didepanku. Semakin lama semakin terang
dan kemudian menelanku. Bersamaan dengan itu aku mendengar Ibu dan Zidan
berkata kalau mereka mengikhlaskanku. Dan aku pergi dengan senyuman untuk
mereka yang menyayangiku.
(a.n 051213)
*Cerpen berjudul "Aku dan Tiada" ini telah diterbitkan di Jawa Pos Radar Bromo pada Minggu, 29 Desember 2013.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact