Sabtu, 28 Desember 2013 0 komentar

Aku dan Tiada


Sebelum berangkat sekolah, di depan rumahku, Aku membenahkan kerudungku. Hari ini tubuhku lebih ringan dari biasanya. Seakan tidak ada beban yang memberatkanku. Jadi, perjalanan ke sekolah kali ini pasti tidak akan membuatku mengeluarkan banyak keringat.

Rumahku sepi. Entah kemana ayah dan ibuku pergi. Yang terpenting aku harus segera berangkat sekolah. Aku tidak mau telat, dan mendapatkan hukuman dari Pak Satpam. Apalagi, dari kelas X sampai kini kelas XII, aku tak pernah sekalipun telat. Jadi, bagaimana mungkin aku mencetak skor terlambat ditahun akhir sekolah.

Tak mau pikir panjang, aku lansung berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot. Aku berdiri disamping ibu dengan bayi digendongannya yang sepertinya tengah menunggu angkot juga. Tiba-tiba saja bayi itu menangis, membuat sang ibu buru-buru menenangkan bayi itu dengan sentuhan penuh kasih sayang. Tapi, bayi itu tetap menangis. Bahkan didalam angkotpun bayi itu tetap menangis. Kucoba menghibur bayi dengan melucu dihadapannya, tapi tetap saja bayi itu tidak berhenti menangis. Sang ibu mulai tampak khawatir dan kelelahan. Aku jadi kasihan.

Aku turun dari angkot yang aku tumpangi di depan sekolahku bersama dengan anak-anak kelas satu yang belum aku kenal. Hari ini adalah hari pelajar, jadi pelajar yang naik angkot digratiskan oleh Pemerintah Kota. Aku bersyukur karena itu, sebab aku tidak membawa uang sepeserpun dari rumah.

Gerbang sekolah seakan perisai yang melindungi bangunan sekolahku yang berdiri kokoh dibelakangnya. Murid-muridpun terlihat berdesakan memasuki sekolah. Dan diantara murid-murid yang bergerombol itu, aku mendapati seseorang yang tertangkap oleh mataku. Orang itu adalah Zidan. Orang yang diam-diam telah mencuri hatiku sejak 3 tahun yang lalu, membuatku seakan ingin memberikan hatiku padanya. Tapi, sebagai seorang perempuan tentunya itu bukan hal yang pantas untuk dilakukan olehku. Bagaimanapun, aku tahu batasanku sebagai seorang muslimah.

Perasaan ini tak pernah berkurang sedikitpun sejak aku merasakan perasaan aneh ini untuk pertama kalinya. Dan gejolak yang kurasakan tiap kali bertemu dengannya pun tak pernah benar-benar biasa kunetralkan. Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah menikmati rasa yang hadir dan apapun yang digariskan Tuhan untukku.

Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Akupun bergegas memasuki gerbang yang hampir saja ditutup. Aku tersenyum jahil pada Pak Satpam yang biasanya selalu kuajak bercanda tiap istirahat.

“maaf pak.. masih milih angkot dulu tadi. Hehehe..” ujarku seraya nyengir kuda. Namun, ada yang aneh dengan Pak Satpam hari ini. Tak biasanya Pak Satpam tidak merespon gurauanku. Dan lagi,wajah Pak Satpam tampak murung.

“mungkin Pak Satpam lagi ada masalah.” Putusku akhirnya.

#####

Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan yang pernah aku hadapi. Dan hari ini adalah hari pertama kalinya seakan aku tidak dianggap oleh teman-teman sekelasku. Seharusnya mereka menyambutku setelah sekitar satu bulan aku terbaring di rumah sakit. Kenapa mereka seakan lupa padaku? Bel istirahat telah usai beberapa menit lalu. Tapi aku tidak mau masuk kelas yang semua penghuninya tidak peduli padaku. Jadi, lebih baik aku berada disini. Dibangku belakang sekolah yang sering kudatangi ketika hatiku resah.

Aku mendengar suara derap kaki dan suara gerbang belakang berdecit. Tak mau ketahuan jika itu adalah dewan guru, akupun lansung bersembunyi dibalik pohon besar disamping bangku. Namun, aku lansung membelalak ketika melihat siapa yang tengah mendekat kearah bangku. Dia Zidan. Apa yang dilakukan Zidan disini? Aku hampir saja keluar dari persembunyianku untuk menyapa Zidan jika saja aku tidak melihat siapa yang ada dibelakang Zidan. Zia.

“Zidan dan Zia, apakah mereka?” aku membungkam mulutku dengan kedua tanganku ketika melihat mereka duduk di bangku yang biasanya aku duduki. Hampir saja aku berteriak dan menangis secara bersamaan, jika saja aku tidak malu dengan kerudung yang aku kenakan. Melihat orang yang dicintai dengan orang lain, bukankah itu sakit?

“Zidan, apa kamu tidak bisa menerimanya?” ucap Zia sembari menatap Zidan yang menundukkan kepalanya.

Tidak menerima? Apa mungkin Zidan tidak menerima keputusan Zia karena Zia tidak menerima cinta Zidan? Cukup! Aku tak sanggup lagi mendengar percakapan mereka.

Tak terasa air mata telah menggenangi pelupuk mataku. Yang kuinginkan saat ini adalah pulang dan menceritakan semua yang kualami hari ini pada Ibu.

#####

Aku mengerutkan kening ketika memasuki gerbang rumahku. Kenapa banyak mobil dan orang-orang dirumah? Dan lagi kenapa mereka memakai baju hitam? Apa ada sesuatu yang terjadi dirumah? Tak mau hanya berfantasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkumpul di kepalaku, aku lansung berlari masuk kedalam rumah.

Seseorang tertutup kain batik terbaring ditengah kerumunan orang yang membaca yasin dan tahlil. Sedangkam aku melihat ibu memegang Mushaf ditangannya dengan mata sembab dan berurai air mata.
“apakah mungkin itu ayah? Mana mungkin?!”

Aku melihat ibu mengangkat kepalanya dan menoleh kearahku. Bukan. Ibu bukan menatapku. Lebih tepatnya ibu menatap seseorang dibalik bahuku.

“mirza..mirza..mirza!” teriak ibu histeris hingga membuat paman-paman dan bibiku menghentikan bacaan mereka dan mencurahkan perhatian mereka pada ibu. Ada seseorang yang berlari menembus kerumunan dibelakangku dan lansung menghampiri ibu.

“Ibu!” teriak orang itu yang ternyata adalah ayah. Jika itu ayah, lalu siapa yang berada dibalik kain batik itu?
Aku melangkahkan kakiku kedepan dengan gemetar melihat siapa itu. Dan ketika aku berhasil menangkap wajah disana, itu aku. Orang yang berada dibawah kain batik itu adalah aku. Aku meninggal.

“mirza anakku..jangan pergi nak, jangan pergi...” rintih ibu didalam pelukan ayah. Kakiku lansung limbung. Rasanya aku tak dapat menjaga pijakanku tetap ditanah. Oh,tidak. Kakiku memang tidak ditanah. Aku melayang. Aku menyandarkan punggungku pada dinding rumahku. Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi. Hanya sampai disinikah perjalanan hidupku.

“zidan,  apakah kamu masih tetap tidak bisa menerimanya?” sebuah suara disampingku membuatku memalingkan pandanganku. Zia.

“aku gak tau Zi....”

“Zidan, apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu hingga kamu enggan melepas kepergian mirza?”

“Zi, seharusnya aku mengatakannya lebih awal zi... jika dari dulu aku mengatakannya bukankah ia bisa membawa hatiku bersamanya? Tapi sekarang, apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa kubuktikan kalau aku benar-benar mencintainya sejak pertama aku bertemu dengannya SMP dulu. Apa yang harus kulakukan Zi?”

Pemaparan Zidan membuatku tertegun. Jadi selama ini?

#####

Sebuah cahaya putih berpijar didepanku. Semakin lama semakin terang dan kemudian menelanku. Bersamaan dengan itu aku mendengar Ibu dan Zidan berkata kalau mereka mengikhlaskanku. Dan aku pergi dengan senyuman untuk mereka yang menyayangiku.

(a.n 051213)

*Cerpen berjudul "Aku dan Tiada" ini telah diterbitkan di Jawa Pos Radar Bromo pada Minggu, 29 Desember 2013.
»»  lanjutkan membaca...
Sabtu, 21 Desember 2013 0 komentar

Siapa yang tak ingin?

terbayang hanya sekelebat
terucap hanya sekecap
terasa hanya sesaat
abadipun tak akan selalu tersirat

siapa yang tak ingin selamanya?
siapa yang tak ingin slalu ada?

namun, bisakah mengada-ada?
»»  lanjutkan membaca...
Selasa, 17 Desember 2013 0 komentar

Harum oh Harum

harum kini ranum
dipetik, jatuh
tak berkutik.

harum kini layu
tersenyum kaku
tanpa rayu.

harum kini binal
berdansa bengal
bermuka tebal.

harum kini sendu
tertawa pilu
enggan bercumbu.

harum kini lusuh
sebab berlabuh
celoteh kumuh.

harum kini hilang
bersama bayang
dalam kenang.

(a.k.k 161213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Mungkin Lebih Baik


Ah, mata itu hampir lepas
Dagu juga  tidak lekas turun
Dadapun tak mau mundur.
Tinggi? Yah, memang tinggi
Berdiri? Tentu saja berdiri
Lalu?
Semoga mata itu tak menyandungnya
Semoga dagu itu tak menghalangi tatapnya
Dan semoga dada itu tak menghentikan detak jantungnya.
Sepertinya, mungkin itu lebih baik.
(a.n 161213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Hanya Itukah?

Hanya Itukah?
Bardiri, mengangkat
Mengangkat, membusungkan
Berdiri, mengangkat dan membusungkan
Marah, mengomel
Mengomel, gebrak-gebrak
Marah, mengomel dan gebrak-gebrak
Hanya itukah yang bisa kau banggakan?
(a.n 161213)
»»  lanjutkan membaca...
Minggu, 15 Desember 2013 0 komentar

Aku Bukan Bonekamu!

tanganku bisa bergerak
kakiku bisa berjalan
mataku bisa melihat
telingaku bisa mendengar
mulutku bisa berbicara
dan hatiku bisa merasakan

Jadi, jangan pernah mencoba untuk menggerakkanku dengan tali yang kau genggam
Aku bukan bonekamu!

(a.n 161213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Mata Hijau

Mata hijau itu ada di sana
di tengah kerumuman orang yang berlalu lalang

Mata hijau itu berdiri di sana
di atas podium dengan setelan rapi beserta dasinya

Mata hijau itu duduk di sana
di kursi para pembesar negara yang terhormat

Mata hijau itu terseyum
senyuman licik dengan muslihat jitu di dalamnya

Mata hijau itu menatap bangsaku
dari atas kedudukan tinggi di Indonesiaku

dan pada akhirnya
Mata hijau itu berjalan
menuju terali besi yang akan menjaganya untuk sekian lama

(a.n 151213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Tataplah

Tataplah raut
bukankah memang semrawut?
kusutpun juga tak luput
kepala juga cedat cedut

Tubuh kaku tidak mau bergerak
tapi fikir malah meloncat-loncat
mata juga mulai sayu
ingin berbaring, namun pena masih harus tetap tegak

(a.n 151213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Apa Yang Sebenarnya

Rindu?yah, seprtinya memang rindu

saat hati sesak seakan tidak bisa bernafas,
bukankah itu yanh namanya rindu?
saat sekelebat wajah hanya bisa menari dibalik mata, bukankah itu rindu?
saat kaki seakan ingin mengejar sampai diujung dunia, bukankah itu juga rindu?

Kalian tau,
ia sering hadir disaat apapun diriku
slalu ada dibalik hayalku

Terkadang, sulit untukku menyadari kalau anganku telah menutup nyataku
Fantasi yang slalu kuartikan dari setiap tatapan matanya,
Disaat aku menduga kalau tiadalah aku untuknya, dia peduli.
Bahkan dengan kepedulian yang tak pernah sampai kupikirkan

Aneh?
yah, memang aneh.
ia tak pernah menampakkannya padaku
ia tak pernah mengatakannya. sungguh!

Saat hati tak jera untuk menanti, cintakah?

(a.n 141213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Aku Tau



Tanganku tak mau bergerak
Fikirku seakan tersedak
Namun aku tau ketika hatiku bergejolak

Mataku panas
Nafaskupun memburu tak karuan
Namun aku tau kalau hatiku tengan terpacu

Kakiku diam
Seakan ada paku yang menancapkannya disana
Namun aku tau kalau hatiku tak pernah diam

Aku tak selalu tau apa yang dilakukan tubuhku,
Tapi aku tau apa yang dilakukan hatiku.

(a.n 141213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Bisakah Kau Buatku Terdiam?



Kau suruh aku menutup mataku
Aku melakukannya
Tapi aku masih bisa melihat cercahan-cercahan cahaya dalam gelapku

Kau suruh aku menyumbat hidungku
Aku melakukannya
Tapi aku masih bisa bernafas dengan mulutku

Kau suruh aku mengikat tanganku
Aku melakukannya
Tapi aku masih bisa menggerakkan jari-jariku

Kau suruh aku menerali kakiku
Aku melakukannya
Tapi aku masih bisa melompat sekalipun aku terikat

Kau suruh aku membungkam mulutku
Aku melakukannya
Tapi aku masih bisa bicara dengan  hatiku

Jadi, sekalipun kau membekukanku di dalam balok es
Hanya agar aku tak busa bergerak,
Apakah kamu benar-benar yakin bisa membuatkuu terdiam?

(a.n 141213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Gamis Ibu

                                Selaksa rindu merebak memenuhiku
                                Seuntai kasih yang berpilin indah, mengikatku dengan eratnya
                                Kukira masih kan ada renggang di sana
                                Tapi ternyata kasihmu memang tak sedikitpun bercelah
                “selaksa rindu……..merebak……..memenuhiku…. mmm,” sebuah gumaman tertangkap oleh gendang telingaku. Sadar kalau yang digumamkan adalah tulisanku, aku buru-buru menutup buku didepanku berharap kalau si penggumam tadi tidak membaca tulisanku lebih banyak lagi. Aku menengadahkan kepalaku, mencari sosok yang berani-beraninya membaca tulisanku. Bagaimanapun juga, aku tidak suka ada orang yang membaca tulisanku tanpa seizinku.
                Aku menghela nafas lega ketika aku tau siapa yang kutuduh penggumam tadi.
                “Dian…kirain siapa, ternyata kamu” ungkapku. Aku bersyukur dalam hati karena bukan orang lain yang membaca tulisanku tetapi dia adalah Dian. Teman sebangku sekaligus sahabatku. Untuk Dian, dia pengecualian.
                “iya aku, memangnya kenapa?” Dian menaruh tasnya diselorokan bangku kami kemudianduduk di kursi dan menghadap padaku. Aku yang sedari tadi masih menumpuk tanganku di atas bukukupun mulai melonggarkan penjagaanku.
                “kalau kamu mau baca tulisanku, kamu gak perlu ngintip-ngintip kayak pencuri gitu kan…… kamu bikin aku terkejut saja,” keluhku seraya memutar badanku menghadap padanya.
                Dian hanya tertawa renyah menanggapi pengakuanku.
                “nadia…nadia…. Memangnya itu puisi buat siapa? Kok kayaknya rahasia banget gitu?”
                Aku meletakkan jari telunjukku dibibirku dan member isyarat agar Dian mendekat.
                “ssst, puisi ini untuk inuku.”
                “ibu??”
                Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan. “dua hari lagi adalah hari ibu. Aku ingin membuatkan puisi untuk ibuku.”
v   
                “nad, kapan kamu akan memberikan puisi yang kamu buat tadi ke ibumu?” Tanya Dian saat bel istirahat telah berbunyi.
                “tentu saja lusa pas Hari Ibu. Mas tahun depan? Kadaluwarsa dong……” jawabku yang membuat Dian menarik kedua sudut bibirnya.
                “eh nad, kenapa sih kamu ngasih puisi pada ibumu?”
                Aku mengerutkan keningku, sedikit heran dengan pertanyaan Dian.
                “selama ini, aku belum bisa memberikan apapu pada ibuku. Setelah 9 bulan mengandung, melahirkan dan merawatku hingga sebesar ini, aku merasa masih belum bisa membanggakan dan memberikan yang terbaik untuk ibuku. Prestasiku di sekolah biasa saja, di rumahpun aku lebih sering bermain ketimbang membantu ibu. Ibuku pasti pernah bahkan sering merasa kecewa padaku. Makanya aku bikin acak-acakanku ini kepada ibu, siapa tau bisa menambal sedikit rasa kecewa ibu padaku. Kalau kamu sih enak, dari SD sampai Smp kelas IX saat ini, kamu selalu menjadi juara pertama. Tiap menjadi delegasi dari sekolahpun kamu selalu pulang membawa piala. Pasti ibumu sangat bangga padamu.”
                “tidak juga nad…..”
v   
                “apakah ini benar-benar cocok buat ibuku?” Tanya Dian seraya membalik-balikkan gamis indah berwarna putih di depannya.
                “tenang aja, pasti cocok kok….. ibuku juga punya banyak gamis di rumah.” tapi bukan aku yang membelikannya. Itulah sebenarnya yang ingin aku katakan pada Dian, tapi urung. Dian baru saja mendapat tunjangan beasiswa dari sekolah karena prestasi yang ia raih, jadilah aku menyarankan padanya agar membeli gamis untuk ibunya. Memberi hadiah ibu dengan uang sendiri, pasti lebih menyenangkan kan?
                “jadi menurutmu, ibuku akan suka saat aku memberinya gamis ini?”
                “tentu saja. Semua ibu menyukainya.”
                Dian tampak tersenyum manis dari balik kerudungnya.
                “nad, memberikan hadiah ini pada ibu besok, kamu mau mengantarku kan?”
                “seperti pintamu.”
v   
                Aku dan Dian berjalan jalan itu muat untuk kulewati. Kukira dia sudah terbiasa melewati jalan ini, jadi mungkin ia lebih beruntung. Tapi ternyata ia lebih sering mengeluh ketika bahunya bertemu dengan tembok-tembok rumah yang seakan siap menghimpit kami kapanpun ia mau.
                “nad, aku jarang sekali bertemu ib uku.” Ungkap Dian saat kami berhasil melewati rintangan sempit itu.
                Mendengar ucapan Dian, tentu saja aku langsung membelalakkan mataku. Aku memiringkan kepalaku isyarat bahwa aku tidak mengerti apa yang ia maksudkan.
                “kenapa seperti itu Dian? Apa kamu marah pada ibumu?” tanyaku penasaran.
                “tidak. Aku tidak sedikitpun marah pada ibu.”
                “lalu?”
                “karna ibu tidak pernah mengizinkanku untuk menemuinya.”
                Aku mendengar sebuah cekikikan dari sebrangku. Tepatnya di sebuah warung dipinggir jalan yang lumayan sepi ini. Di sana ada seorang wanita yang tengah duduk di atas pangkuan seorang pria dengan manjanya. Pakaiannya minim, hingga memamerkan sebagian besar dari anggota tubuhnya. Aku memejamkan mataku mataku saat melihat mereka hendak melakukan sesuatu yang tak seharusnya terlihat olehku. Aku segera memalingkan mukaku dan menatap Dian.
                “bagaimana mungkin seperti itu? Bagaimana dengan ayahmu?”
                “aku tak pernah benar-benar punya ayah nad….”
                “maksud kamu?”
                “wanita yang kamu lihat tadi, dia adalah ibuku. Dan pria yang difgelayuti ibu dengan manja itu, aku tidak tau apakah dia ayahku atau bukan. Jadi menurutmu, apakah ibu masih akan tetap menyukai gamis yang kuberikan padanya?”
v   
(a.n 131213)
»»  lanjutkan membaca...
Jumat, 13 Desember 2013 0 komentar

Bulan Sabit Kumal

bulan sabit kumal
berbangga cahaya siang
tak hirau silau
bersorak riuh girang.

waktu berbisik melambai
belum sampai atau enggan usai
kau jua tetap lalai
dalam dekap lembut belai.

bulan sabit kumal
malammu kini gersang
waktu beranjak tua
menutup selaput mata.

(a.k.k 091213)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Mbejundul

angin tumpul, beruntun
berjubel, tanpa dituntun
mengepul, dalam ubun-ubun
menyundul, beriring alun
amburadul, setiap pantun
bikin gundul, tanpa ampun.

(a.k.k 141113)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Jalang-kung (bukan)

dasar Si Jalang,
kau sih terlalu dikungkung.!

"diundang tak datang, diantar tak pulang"

(a.k.k 221113)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Gelap Badai

gelap badai memeluk karang
mencibir gelombang
mengusik jangkar-jangkar karam.

diam-diam berbisik :
"sssst, tenang.. aku hanya mencari umpan, dalam bilik-bilik kekacauan"

(a.k.k 201113)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Sudah. Pejamkan Saja!

sudah. pejamkan saja!
nanarmu terasa muda,
berbanding belalak tetua.

sudah. pejamkan saja!
nanarmu tak mencium busuk,
hanya jika kamu terkantuk.

sudah. pejamkan saja!
nanarmu tak layu kering,
menghisap kantong-kantong puing.

sudah. pejamkan saja!
nanarmu belum juga usai,
lirikan terlalu panjang,
untuk sejenak memandang.

sudah. pejamkan saja!

(a.k.k 241113)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Caci Saja!

caci saja burung!
bernyanyi membumbung,
mampunya.

caci saja laut!
bercanda ribut,
mampunya.

caci saja pelangi!
berpoles warna-warni,
mampunya.

caci saja darah!
mengalir bersimbah,
mampunya.

caci saja malam!
berhias kelam,
mampunya.

caci saja sunyi!
berbisik sepi,
mampunya.

caci saja embun!
menari beruntun,
mampunya.

tak lupa,
si busuk kecil,
katamu.
mengekor ucapan bualmu,
mampuku.

caci saja aku!

(a.k.k 271113)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Hanya Tentang Hidupku

       Hanya Tentang Hidupku

Kalian tau kenapa aku sering menganggap hidup itu sulit ???? hidup itu tak pernah adil.,., dan hidup itu nestapa.,.,
Alasannya sederhana, karna aku tak tau makna kehidupan, dan aku tak tau bagaimana cara menjalaninya, ,.,., karna aku adlah seekor ulat yang tak mau kaluar dari kepompong untuk berusaha melihat dunia..,.,.,.,

Dan skarang, ulat itu tlah mengalahkan rasa takutnya dan berani menatap dunia,,, 
untukku Hidup ini sulit karna aku tak pernah mencoba mencari kemudahan disana, hidup itu tak pernah adil karna aku tak mau mengerti betapa dunia ini penuh dengan sgala misteri, dan hdup itu nestapa karna aku tak pernah menyadari kalau kebahagiaan yang akan menantiku di ujung sana,.,.,.

So, yang terkatakan skarang adalah.,.,.,
Hidup itu tak pernah slah dan jangan pernah menyalahi kehidupan.,., nanti yang bikin hidup marah lhooo.,., hehehe
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Duka Rasakan Suka

Duka tuk rasakan suka
nestapa tuk rasakan bahagia
dan resah tuk rasakan kelegaan
semua terangkai dalam nyata
semuapun tergambar  dalam kawah kehidupan
tiada yang maya karna Dia yang menentukan
       Duka, suka, nestapa dan bahagia.,.,.,. apa bedanya?
       bukankah semua adalah rasa????
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Dendang Kasih

Dendang kasih mengalun dalam melodiku
Sekelebat bayangan menyergapku dengan sejuta tangis yang nyata
Aku tau,
Bertahanku kan semakin menambah sayatan halus disisi hatiku
Tapi, aku bisa apa?
            Mengikisnya hanya akan buatku sia-sia
Menutupinya akan buatku nestapa kembali
Secercah harapan tak kan hilang dalam temaram
                Jika ia begitu terang untuk malam yang hanya sebatas kelam
                Haruskah aku masih berdiam?
                Menunggu dan berharap sesuatu yang tak pasti
Melodiku mengalun sayup-sayup
Mengalirkan nada sendu.
                                                                                                                                (sabtu,19/01/13)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Garis Samar

Pena itu menarik garis lurus samar
Antaraku dan dia sungguh tersekat
                Jika angin itumenerbangkan debutaman,
                Mengajaknya berlari menutupi garis samar
                Apakah kan berbeda?
Jika air yang membasuhnya,
Apakah tak kan sama?
                Apakah harus ku bedakan persamaan yang ada?
                Sedangkan sepertinya garis itu memeang samar
                Dan persamaan itu tak dapat di bedakan
                                Aku dan dia pun dia dan aku.
                                                                                                                (selasa, 29/01/13)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Meraih

Kaki ini ingin melangkah
Meraih intan yang terselubung kabut
Tapi entah kenapa mata beralas air bening
Ketika mereka berjalan sedangkan aku terdiam
                Tangan ini ingin meraih
                Gapai permata yang tertutup daun kering
                Tapi entah kenapa telinga tak sanggupmendengar
                Ketika mereka berlari sedangkan aku masih terdiam
Hati ini ingin menembus
Angan yang tertulis agar tak hanya terlukis
Tapi entah kenapa aku merasa kecil
Ketika mereka sudah menapaki sedangkan aku masih saja terdiam
                Aku ingin…..
                Seperti mereka…..
                Bersama mereka…..
                                                                                                (selasa,12/02/13)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Dia Ada


Aku berharap dia disini
Menggamit tanganku ketika aku hampir terjatuh
Membelai rambutku ketika aku terbaring
Dan menggenggamku ketika aku melemah
Dia selalu ada…
                Tapi siapalah aku?
                Hanya seenggok batu di bawah tebing yang curam
                Meraih tangankupun tak kan pernah sampai
                Dia ada….
Aku ingin berjuang untuk rasa
Tak lagi menoreh dalam sukma
Aku tak tau
Dia ada…
                Dia memang ada…
                Tapi dengannya,
                Bukanku terpuruk, namun hatiku tersaruk….
                Hanya anganku melayang dalam mimpiku
                                Kadangkala, aku berharap tak pernah ingin bangun dari mimpiku.
                                                                                                                (kamis,14/03/13)
»»  lanjutkan membaca...
0 komentar

Rantai Hati

Jika rantai hati terpasung akan kenestapaan,
jika rasa telah terberai pada kisah yang terdalam,
adakah sayap kasih yang tak tercekam dalam angan yang usang ???

Rindu akan jiwa yang sendu,
menekuni keresahan yang tiada pernah tertutup,
hilang...
lenyaplah sebaris demi sebaris kasaksianku pernah merasa.
»»  lanjutkan membaca...
 
;