Sabtu, 28 Desember 2013

Aku dan Tiada


Sebelum berangkat sekolah, di depan rumahku, Aku membenahkan kerudungku. Hari ini tubuhku lebih ringan dari biasanya. Seakan tidak ada beban yang memberatkanku. Jadi, perjalanan ke sekolah kali ini pasti tidak akan membuatku mengeluarkan banyak keringat.

Rumahku sepi. Entah kemana ayah dan ibuku pergi. Yang terpenting aku harus segera berangkat sekolah. Aku tidak mau telat, dan mendapatkan hukuman dari Pak Satpam. Apalagi, dari kelas X sampai kini kelas XII, aku tak pernah sekalipun telat. Jadi, bagaimana mungkin aku mencetak skor terlambat ditahun akhir sekolah.

Tak mau pikir panjang, aku lansung berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot. Aku berdiri disamping ibu dengan bayi digendongannya yang sepertinya tengah menunggu angkot juga. Tiba-tiba saja bayi itu menangis, membuat sang ibu buru-buru menenangkan bayi itu dengan sentuhan penuh kasih sayang. Tapi, bayi itu tetap menangis. Bahkan didalam angkotpun bayi itu tetap menangis. Kucoba menghibur bayi dengan melucu dihadapannya, tapi tetap saja bayi itu tidak berhenti menangis. Sang ibu mulai tampak khawatir dan kelelahan. Aku jadi kasihan.

Aku turun dari angkot yang aku tumpangi di depan sekolahku bersama dengan anak-anak kelas satu yang belum aku kenal. Hari ini adalah hari pelajar, jadi pelajar yang naik angkot digratiskan oleh Pemerintah Kota. Aku bersyukur karena itu, sebab aku tidak membawa uang sepeserpun dari rumah.

Gerbang sekolah seakan perisai yang melindungi bangunan sekolahku yang berdiri kokoh dibelakangnya. Murid-muridpun terlihat berdesakan memasuki sekolah. Dan diantara murid-murid yang bergerombol itu, aku mendapati seseorang yang tertangkap oleh mataku. Orang itu adalah Zidan. Orang yang diam-diam telah mencuri hatiku sejak 3 tahun yang lalu, membuatku seakan ingin memberikan hatiku padanya. Tapi, sebagai seorang perempuan tentunya itu bukan hal yang pantas untuk dilakukan olehku. Bagaimanapun, aku tahu batasanku sebagai seorang muslimah.

Perasaan ini tak pernah berkurang sedikitpun sejak aku merasakan perasaan aneh ini untuk pertama kalinya. Dan gejolak yang kurasakan tiap kali bertemu dengannya pun tak pernah benar-benar biasa kunetralkan. Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah menikmati rasa yang hadir dan apapun yang digariskan Tuhan untukku.

Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Akupun bergegas memasuki gerbang yang hampir saja ditutup. Aku tersenyum jahil pada Pak Satpam yang biasanya selalu kuajak bercanda tiap istirahat.

“maaf pak.. masih milih angkot dulu tadi. Hehehe..” ujarku seraya nyengir kuda. Namun, ada yang aneh dengan Pak Satpam hari ini. Tak biasanya Pak Satpam tidak merespon gurauanku. Dan lagi,wajah Pak Satpam tampak murung.

“mungkin Pak Satpam lagi ada masalah.” Putusku akhirnya.

#####

Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan yang pernah aku hadapi. Dan hari ini adalah hari pertama kalinya seakan aku tidak dianggap oleh teman-teman sekelasku. Seharusnya mereka menyambutku setelah sekitar satu bulan aku terbaring di rumah sakit. Kenapa mereka seakan lupa padaku? Bel istirahat telah usai beberapa menit lalu. Tapi aku tidak mau masuk kelas yang semua penghuninya tidak peduli padaku. Jadi, lebih baik aku berada disini. Dibangku belakang sekolah yang sering kudatangi ketika hatiku resah.

Aku mendengar suara derap kaki dan suara gerbang belakang berdecit. Tak mau ketahuan jika itu adalah dewan guru, akupun lansung bersembunyi dibalik pohon besar disamping bangku. Namun, aku lansung membelalak ketika melihat siapa yang tengah mendekat kearah bangku. Dia Zidan. Apa yang dilakukan Zidan disini? Aku hampir saja keluar dari persembunyianku untuk menyapa Zidan jika saja aku tidak melihat siapa yang ada dibelakang Zidan. Zia.

“Zidan dan Zia, apakah mereka?” aku membungkam mulutku dengan kedua tanganku ketika melihat mereka duduk di bangku yang biasanya aku duduki. Hampir saja aku berteriak dan menangis secara bersamaan, jika saja aku tidak malu dengan kerudung yang aku kenakan. Melihat orang yang dicintai dengan orang lain, bukankah itu sakit?

“Zidan, apa kamu tidak bisa menerimanya?” ucap Zia sembari menatap Zidan yang menundukkan kepalanya.

Tidak menerima? Apa mungkin Zidan tidak menerima keputusan Zia karena Zia tidak menerima cinta Zidan? Cukup! Aku tak sanggup lagi mendengar percakapan mereka.

Tak terasa air mata telah menggenangi pelupuk mataku. Yang kuinginkan saat ini adalah pulang dan menceritakan semua yang kualami hari ini pada Ibu.

#####

Aku mengerutkan kening ketika memasuki gerbang rumahku. Kenapa banyak mobil dan orang-orang dirumah? Dan lagi kenapa mereka memakai baju hitam? Apa ada sesuatu yang terjadi dirumah? Tak mau hanya berfantasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkumpul di kepalaku, aku lansung berlari masuk kedalam rumah.

Seseorang tertutup kain batik terbaring ditengah kerumunan orang yang membaca yasin dan tahlil. Sedangkam aku melihat ibu memegang Mushaf ditangannya dengan mata sembab dan berurai air mata.
“apakah mungkin itu ayah? Mana mungkin?!”

Aku melihat ibu mengangkat kepalanya dan menoleh kearahku. Bukan. Ibu bukan menatapku. Lebih tepatnya ibu menatap seseorang dibalik bahuku.

“mirza..mirza..mirza!” teriak ibu histeris hingga membuat paman-paman dan bibiku menghentikan bacaan mereka dan mencurahkan perhatian mereka pada ibu. Ada seseorang yang berlari menembus kerumunan dibelakangku dan lansung menghampiri ibu.

“Ibu!” teriak orang itu yang ternyata adalah ayah. Jika itu ayah, lalu siapa yang berada dibalik kain batik itu?
Aku melangkahkan kakiku kedepan dengan gemetar melihat siapa itu. Dan ketika aku berhasil menangkap wajah disana, itu aku. Orang yang berada dibawah kain batik itu adalah aku. Aku meninggal.

“mirza anakku..jangan pergi nak, jangan pergi...” rintih ibu didalam pelukan ayah. Kakiku lansung limbung. Rasanya aku tak dapat menjaga pijakanku tetap ditanah. Oh,tidak. Kakiku memang tidak ditanah. Aku melayang. Aku menyandarkan punggungku pada dinding rumahku. Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi. Hanya sampai disinikah perjalanan hidupku.

“zidan,  apakah kamu masih tetap tidak bisa menerimanya?” sebuah suara disampingku membuatku memalingkan pandanganku. Zia.

“aku gak tau Zi....”

“Zidan, apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu hingga kamu enggan melepas kepergian mirza?”

“Zi, seharusnya aku mengatakannya lebih awal zi... jika dari dulu aku mengatakannya bukankah ia bisa membawa hatiku bersamanya? Tapi sekarang, apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa kubuktikan kalau aku benar-benar mencintainya sejak pertama aku bertemu dengannya SMP dulu. Apa yang harus kulakukan Zi?”

Pemaparan Zidan membuatku tertegun. Jadi selama ini?

#####

Sebuah cahaya putih berpijar didepanku. Semakin lama semakin terang dan kemudian menelanku. Bersamaan dengan itu aku mendengar Ibu dan Zidan berkata kalau mereka mengikhlaskanku. Dan aku pergi dengan senyuman untuk mereka yang menyayangiku.

(a.n 051213)

*Cerpen berjudul "Aku dan Tiada" ini telah diterbitkan di Jawa Pos Radar Bromo pada Minggu, 29 Desember 2013.

0 komentar:

 
;